“SMART PAS bukan sekadar forum berbagi materi, tetapi model pengelolaan pengetahuan internal. Pengetahuan yang sebelumnya melekat pada individu kami dorong menjadi aset organisasi yang terdokumentasi, dapat diakses, dan digunakan kembali untuk meningkatkan kinerja,” jelas Ari.
Direktur Kerja Sama Universitas Negeri Jakarta, Rahmat Darmawan, menyambut positif kolaborasi tersebut dan menilai keterlibatan perguruan tinggi dapat mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Perguruan tinggi memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi melalui penelitian, pengabdian, dan pengembangan kapasitas aparatur. Kolaborasi seperti ini penting agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di kampus, tetapi dapat memberi manfaat langsung bagi peningkatan kualitas pelayanan publik,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Lapas Cipinang juga memperkenalkan LATUCIP-GO Reborn: SIMPATI (Sistem Informasi Monitoring Pelayanan Integrasi) sebagai pengembangan layanan digital yang memungkinkan Warga Binaan dan keluarga memperoleh informasi perkembangan proses integrasi secara lebih mudah dan transparan.
Kehadiran SIMPATI menunjukkan bahwa penguatan kapasitas aparatur melalui SMART PAS diarahkan pada satu tujuan yang sama, yakni menghadirkan perubahan organisasi yang berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan.
Melalui kolaborasi akademik, pelembagaan manajemen pengetahuan, dan pengembangan layanan digital, Lapas Cipinang terus membangun organisasi yang adaptif, profesional, dan berorientasi pada pembelajaran berkelanjutan. (Ragil).





















