“Kami berkumpul di sini dengan membawa jajan dan makanan sendiri dan tanpa ada uang amplop, daripada dikasih uang nantinya malah belum tentu benar kalau sudah jadi,” ungkapnya.
Sementara itu Waindun ( 60 ) saat dikonfirmasi menuturkan, bahwa semenjak awal dirinya ragu untuk mencalonkan dirinya sebagai kepala desa, mengingat ia hanya seorang pensiunan pegawai biasa bukan pejabat, namun karena desakan yang terus berdatangan,baik dari saudara, tetangga dan para pemuda serta tokoh agama, akhirnya ia pun menyanggupi,
“Warga patungan untuk membiayai kebutuhan logistik kampanye, mulai dari cetak spanduk hingga konsumsi saat pertemuan warga. Calon kades yang didukung pun mengaku terharu dan tidak menyangka akan mendapat dukungan se-militan ini dari warga, terutama semangat emak-emak tak mau ketinggalan,” ungkapnya terharu.
Fenomena ini membuktikan bahwa suara perempuan desa tidak bisa dianggap remeh dalam menentukan arah masa depan kepemimpinan daerah. Dengan semangat gotong royong yang tinggi, emak-emak Desa Sungapan telah memberikan contoh nyata tentang bagaimana politik yang bersih dan partisipatif dimulai dari tingkat keluarga.( Ragil).

















