Pengembangan sistem dilakukan melalui kerja sama dengan PT Indonesia Indicator, penyedia platform pemantauan media dan analisis krisis berbasis Artificial Intelligence (AI).
Kartiko Bramantyo, perwakilan perusahaan tersebut, menyampaikan bahwa sistem ini telah dikustomisasi sesuai karakteristik operasional Pemasyarakatan.
“Kami bangga dapat mendukung Lapas Cipinang sebagai pilot project nasional. Sistem ini mampu mendeteksi anomali komunikasi, tren negatif, serta potensi viral secara otomatis. Dengan begitu, tim komunikasi dapat mengambil langkah cepat dan presisi,” jelasnya.
Sementara itu, Sumaryo, selaku Ketua Tim Komunikasi Publik Lapas Cipinang, menilai kehadiran sistem ini sebagai lompatan besar dalam tata kelola komunikasi krisis yang berbasis data dan bukti. “Kami tidak lagi bekerja hanya dengan intuisi, tapi dengan analisis yang terukur. Dengan EWS, kami bisa memetakan isu, menyusun narasi respons, dan menjaga kepercayaan publik secara berkelanjutan. Ini adalah momentum penting bagi modernisasi komunikasi Pemasyarakatan,” ujarnya.
Inovasi ini menjadi wujud nyata dari semangat PRIMA (Profesional, Responsif, Integritas, Modern, dan Akuntabel) serta mendukung pelaksanaan 13 Program Akselerasi Pemasyarakatan yang digagas oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Melalui pendekatan digital dan kolaboratif, Lapas Cipinang menegaskan diri sebagai lembaga yang proaktif, tangguh, dan siap menghadapi tantangan era informasi, menjaga kepercayaan publik, serta memperkuat citra positif Pemasyarakatan di mata masyarakat.( Ragil).





















