Tawassul dipimpin Romo Ali Hasyim, dengan suara yang mengalun tenang, mengikat langkah panjang yang baru diselesaikan rombongan. KH. Khambali memimpin tahlil yang menggaung pelan, berpadu dengan desir angin yang turun dari bukit.

Di akhir acara, keduanya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Safari Kebangsaan, sebuah program yang digagas Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H., sebagai upaya merawat nilai sejarah, merajut persatuan, dan menghidupkan kembali napas spiritual di wilayah Sumatera Utara.
Barus sendiri, sebuah kecamatan tua yang telah lama menjadi simpul sejarah peradaban pesisir, menyimpan banyak makam ulama dan situs-situs yang diyakini sebagai jejak awal kehadiran Islam di Nusantara. Dari lereng Pananggahan hingga bibir pantai timur Samudra Hindia, Barus berdiri sebagai museum hidup yang menantang untuk terus ditafsir ulang.

Rombongan Safari Kebangsaan turun kembali saat matahari condong ke barat. Langkah mereka kini lebih ringan, meski napas masih tersisa dari perjalanan panjang. Namun satu hal terasa jelas: 910 anak tangga itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ziarah sunyi yang merawat ingatan tentang dari mana tradisi dan iman pernah bertumbuh di tanah Barus.




















