KOMPASNEWS,JAKARTA – Jarum dan benang menari di tangan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang. Di ruang kegiatan kerja (Giatja), mereka tekun mengikuti pelatihan menjahit, belajar mengolah kain dengan penuh ketelitian, Senin (26/1).
Aktivitas ini bukan hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan rasa disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab yang menjadi bekal penting untuk kehidupan setelah masa pembinaan.
Dari pelatihan tersebut lahir berbagai produk, mulai dari seragam dinas hingga busana formal yang dibuat sesuai permintaan. Setiap hasil karya dikerjakan dengan standar rapi dan presisi,
Menyesuaikan desain serta ukuran yang diinginkan pemesan. Produk-produk ini tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga diapresiasi oleh pihak luar, sehingga keterampilan menjahit Warga Binaan terbukti memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menekankan bahwa pelatihan menjahit menjadi salah satu keterampilan yang paling relevan bagi Warga Binaan. Menurutnya, keterampilan menjahit memiliki nilai praktis yang tinggi karena dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun membuka peluang usaha setelah bebas.
“Menjahit adalah kemampuan yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja. Melalui pelatihan ini, Warga Binaan tidak hanya belajar teknik dasar dan penggunaan mesin jahit, tetapi juga dilatih untuk teliti, sabar, dan konsisten dalam menyelesaikan setiap karya,” ujar Wibowo.
Pihaknya berharap menjahit dapat menjadi bekal ketika warga binaan sudah menjalini kehidupan di luar Lembaga Pemasyarakatan nanti,

















