Gangguan Obsesif-Kompulsif

by -8 views

Gangguan Obsesif-Kompulsif

Gangguan Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi. Obsesi adalah munculnya ide-ide, gambaran, atau impuls yang tidak dinginkan, mengganggu dan menimbulkan kecemasan secara berulang, yang mungkin tampak aneh, bodoh, jahat, atau mengerikan untuk orang yang mengalaminya. Kompulsi adalah desakan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.

Orang-orang dengan gangguan obsesif-kompulsif terganggu oleh munculnya obsesi berulang yang tidak dapat mereka kendalikan. Obsesi ini menimbulkan kecemasan yang mendesak penderita untuk melakukan suatu tindakan atau ritual (kompulsi) untuk menghilangkan atau mencegah obsesi tersebut muncul kembali.

Gangguan obsesif-kompulsif terjadi pada sekitar 2% populasi dan hampir sama pada pria maupun wanita. Gangguan ini juga bisa terjadi pada anak-anak.

PENYEBAB

Penyebab gangguan obsesif-kompulsif tidak sepenuhnya diketahui.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini mungkin melibatkan kombinasi faktor biologis dan lingkungan.

– Faktor Biologis : gangguan obsesif kompulsif mungkin terjadi akibat perubahan pada fungsi otak atau kimia alami tubuh. Kurangnya kadar serotonin (salah satu zat kimia di dalam otak) bisa berkontribusi dalam terjadinya gangguan obsesif-kompulsif. Orang-orang yang mengkonsumsi obat-obatan untuk memperbaiki kerja serotonin seringkali mengalami penurunan gejala-gejala gangguan obsesif-kompulsif. Selain itu, gangguan obsesif-kompulsif juga mungkin disebabkan oleh faktor genetik yang belum teridentifikasi hingga saat ini.

– Lingkungan : Ada banyak stressor dari lingungan yang dapat memicu terjadinya gangguan obsesif kompulsif pada orang-orang yang memiliki tendensi untuk terjadinya gangguan ini. Selain itu, ada juga faktor-faktor lingkungan tertentu yang juga bisa memperburuk gejala-gejala yang ada. Faktor-faktor ini bisa berupa :

  • perubahan situasi kehidupan
  • kematian orang yang dicintai
  • penyakit
  • mendapat perlakuan kasar atau tidak layak dari orang lain
  • perubahan atau masalah dalam pekerjaan atau sekolah
  • masalah dalam hubungan

Gangguan Obsesif-Kompulsif

GEJALA

Obsesi yang sering terjadi antara lain :

  • takut kotor atau terkontaminasi kuman (misalnya, takut kalau menyentuh gagang pintu akan terkena kuman atau penyakit)
  • khawatir (misalnya khawatir kalau belum mengunci pintu)
  • takut kehilangan (misalnya takut kehilangan uang atau orang yang dicintai)
  • takut menjadi agresif dan mencederai seseorang
  • takut dipermalukan

Kompulsi yang sering terjadi antara lain :

  • berulang kali mandi atau mencuci tangan
  • menolak untuk bersalaman atau menyentuh gagang pintu
  • berulang kali memeriksa sesuatu, misalnya kompor
  • terus menghitung saat melakukan pekerjaan yang rutin
  • selalu menyusun sesuatu dalam cara yang sama
  • berulang kali mengulangi kata, frasa, atau doa tertentu
  • kebutuhan untuk melakukan sesuatu sebanyak beberapa kali
  • terpaku pada kata-kata, gambaran, atau pikiran, yang biasanya mengganggu, tidak mau hilang, dan bisa sampai mengganggu tidur

Sebagian besar tindakan kompulsif bisa dilihat secara langsung, misalnya berulang kali mencuci tangan atau memeriksa pintu untuk memastikan bahwa pintu sudah dikunci. Tindakan kompuslif lainnya bisa merupakan suatu kegiatan batin, misalnya berulang kali menghitung atau membuat pernyataan untuk menghilangkan bahaya.

Penderita bisa terobsesi oleh segala hal dan ritual yang dilakukan tidak selalu berhubungan dengan berkurangnya rasa tidak nyaman jika penderita melakukan tindakan kompulsif tersebut. Rasa tidak nyaman penderita yang merasa takut kotor atau terkontaminasi akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Oleh karena itu setiap obsesi tentang takut kotor atau terkontaminasi timbul, maka ia akan berulang kali memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan risiko yang nyata. Mereka menyadari bahwa perilaku fisik dan mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh. Karena merasa takut dipermalukan, penderita melakukan tindakan kompulsif secara sembunyi-sembunyi. Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.

Gangguan obsesif-kompulsif berbeda dengan gangguan psikosis, karena pada psikosis penderita kehilangan kontak dengan kenyataan.

DIAGNOSA

Diagnosis biasanya didasarkan dari penuturan penderita mengenai perilakunya.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab fisik. Penilaian psikis dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan jiwa lainnya. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan wawancara berdasarkan kuosioner Skala Obsesif-Kompulsif Yale-Brown.

PENGOBATAN

Terapi pemaparan merupakan sejenis terapi perilaku yang bisa membantu mengatasi gangguan ini. Penderita dihadapkan pada situasi atau orang yang bisa memicu timbulnya obsesi, kompulsi maupun rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman atau kecemasan secara bertahap akan berkurang jika penderita mencegah dirinya melakukan tindakan kompulsif selama dihadapkan pada rangsangan tersebut. Dengan cara ini, penderita dapat memahami bahwa tidak perlu melakukan tindakan kompulsif untuk menghilangkan rasa tidak nyaman.

Obat – obatan yang dapat digunakan antara lain

Anti-depresan trisiklik.

Obat ini sering menimbulkan efek samping berupa rasa mengantuk dan penambahan berat badan. Obat ini juga menyebabkan peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah ketika berdiri, pandangan kabur, mulut kering, linglung, sembelit, kesulitan untuk mulai berkemih dan orgasme yang tertunda. Efek ini disebut efek antikolinergik.

Yang termasuk obat anti-depresan trisiklik antara lain Amitriptyline, Clomipramine, Doxepin, Imipramine, Trimipramine, Desipramine, Nortriptyline, Protriptyline

Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs).

Efek sampingnya lebih sedikit, biasanya berupa timbulnya rasa mual, diare dan sakit kepala; yang sifatnya ringan dan akan segera menghilang jika pemakaian obat dilanjutkan.

SSRIs efektif digunakan pada depresi yang disertai oleh kelainan jiwa seperti Distimia, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, fobia sosial, dan bulimia.

Yang termasuk SSRI antara lain Citalopram, Escitalopram, Fluoxetine, Fluvoxamine, Paroxetine, Sertraline, dan Vilazodone

Obat anti-cemas yang bisa digunakan antara lain Buspirone.

Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya gangguan ini. Biasanya kombinasi psikoterapi dan obat-obatan merupakan pengobatan yang terbaik bagi gangguan obsesif-kompulsif.

PENCEGAHAN

Gangguan obsesif kompulsif tidak dapat dicegah. Namun, diagnosa dan pemberian terapi sejak dini bisa membantu mencegah memburuknya gangguan ini.

REFERENSI

– G, John G. Obsessive Compulsive Disorder. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/mental_health_disorders/anxiety_disorders/obsessive

-compulsive_disorder_ocd.html

– Mayo Clinic. Obsessive Compulsive Disorder. 2010.

http://www.mayoclinic.com/health/obsessive-compulsive-disorder/DS00189

– K, Marina. Obsessive Compulsive Disorder. Web MD. 2012.

http://www.webmd.com/anxiety-panic/guide/obsessive-compulsive-disorder

Leave a Reply

Your email address will not be published.