Gangguan Koordinasi

by -2 views

Gangguan Koordinasi

Gangguan koordinasi disebabkan oleh gangguan fungsi serebelum (otak kecil), yaitu bagian dari otak yang berfungsi untuk mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang disadari (volunter).

Serebelum (otak kecil) merupakan bagian dari otak yang paling bertanggungjawab untuk mengatur serangakaian gerakan, juga mengendalikan keseimbangan dan sikap tubuh. Segala sesuatu yang menimbulkan kerusakan pada serebelum dapat menyebabkan gangguan koordinasi (ataxia).

PENYEBAB

Penyalahgunaan alkohol yang berlebihan untuk jangka panjang menyebabkan kerusakan pada serebelum yang menetap, dan merupakan penyebab paling sering terjadinya gangguan koordinasi. Penyebab lain gangguan koordinasi yang lebih jarang meliputi kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme), kekurangan vitamin E, dan tumor otak. Beberapa gangguan yang diturunkan, seperti ataxia Friedreich, menyebabkan hilangnya koordinasi. Obat-obat tertentu, seperti obat anti-kejang, terutama yang diberikan dalam dosis tinggi, dapat menyebabkan gangguan koordinasi. Pada beberapa kasus, gangguan dapat menghilang setelah pemakaian obat tersebut dihentikan.

Gangguan Koordinasi

GEJALA

Berbagai jenis inkoordinasi bisa terjadi karena adanya kerusakan pada serebelum:

  • Penderita dismetria tidak mampu mengendalikan ketepatan dari gerakan tubuh.
    Misalnya ketika berusaha untuk menggapai sebuah benda, penderita malah menjangkau apa yang ada di belakang benda yang dimaksud.
  • Pada ataksia penderita tidak dapat mengendalikan posisi lengan dan tungkainya atau sikap tubuhnya, sehingga mereka goyah dan lengannya bergerak dalam pola zigzag.
  • Koordinasi yang buruk pada otot-otot percakapan menyebabkan disartria, yang ditandai dengan bicara pelo dan volume suaranya naik-turun tak terkendali.
    Gerakan otot di sekitar mulut juga sangat berlebihan.
  • Tremor. Kerusakan serebelum juga dapat menyebabkan tremor ketika penderita mengakhiri suatu gerakan yang bertujuan atau mencoba untuk meraih suatu target (intention tremor) atau ketika penderita mencoba untuk menahan tubuhnya pada posisi tertentu (postural tremor). Tonus otot dapat menurun.
  • Nystagmus, terjadi ketika melihat sekilas suatu objek, gerakan mata dapat melampaui target yang ingin dilihat dan nystagmus dapat terjadi. Pada nystagmus, mata bergerak dengan cepat ke satu arah secara berulang-ulang, kemudian kembali ke posisi semula dengan pelan.
  • Ataxia Friedreich. Pada gangguan progresif ini, berjalan menjadi goyah antara usia 5-15 tahun. Gerakan lengan menjadi tidak terkoordinasi, dan bicara menjadi pelo dan sulit untuk dimengerti. Kebanyakan anak dengan gangguan ini dilahirkan dengan kaki yang menekuk ke dalam (clubfoot), gangguan kelengkungan tulang belakang (skoliosis), atau keduanya. Orang-orang dengan ataxia Friedreich tidak dapat merasakan getaran, tidak dapat merasakan dimana letak lengan dan tungkai mereka berada (hilang sensasi posisi), dan tidak lagi memiliki refleks-refleks. Dapat terjadi gangguan fungsi mental. Jika terjadi tremor, bersifat ringan.

    Sumber :http://www.webmd.com

    Pada akhir usia 20 tahun-an, orang-orang dengan gangguan ini dapat bergantung pada kursi roda. Kematian seringkali diakibatkan adanya gangguan irama jantung atau gagal jantung, biasanya terjadi pada usia pertengahan.

    DIAGNOSA

    Diagnosa didasarkan dari gejala-gejala yang ada, riwayat keluarga, dan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) dari otak. Pemeriksaan genetik dilakukan jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan koordinasi.

    PENGOBATAN

    Jika memungkinkan, penyebab gangguan koordinasi dihilangkan atau diobati. Misalnya, jika gangguan koordinasi disebabkan oleh pemakaian alkohol, maka perlu dilakukan penghentian konsumsi alkohol. Jika gangguan disebabkan oleh pemakaian obat dosis tinggi, misalnya phenytoin, maka dosis obat tersebut perlu dikurangi. Beberapa kelainan, misalnya hipotiroidisme dan kekurangan vitamin E, dapat diobati. Pembedahan dapat membantu beberapa orang dengan tumor otak. Untuk gangguan koordinasi yang diturunkan (herediter), belum ada penyembuhannya. Pada kasus-kasus tertentu, terapi difokuskan pada meredakan gejala-gejala yang ada.

    REFERENSI

    – E. David, P. Michael. Coordination Disorders. 2007.http://www.merckmanuals.com/home/

    brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/movement_disorders/coordination_disorders.html

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.