Chorea, Athetosis, dan Hemiballismus

by -4 views

Chorea, Athetosis, dan Hemiballismus

Chorea adalah gerakan-gerakan di luar kesadaran (involunter) yang cepat, pendek, menyentak-nyentak, dan berulang-ulang, dimulai pada satu bagian tubuh secara tiba-tiba, tidak dapat diprediksi, dan seringkali berkembang ke bagian tubuh lainnya. Athetosis merupakan gerakan di luar kesadaran yang lambat, menggeliat, mengalir, dan berkesinambungan. Hemiballismus merupakan suatu jenis chorea, biasanya seperti gerakan melempar yang keras dan tidak disadari pada satu tangan.

  • Chorea dan athetosis biasanya merupakan gejala dari suatu kelainan lainnya, meskipun chorea juga dapat terjadi dengan sendirinya pada orang tua atau wanita hamil.
  • Chorea dan athetosis biasanya menyebabkan gerakan-gerakan yang pelan, menggeliat, seperti menari, dan menyentak-nyentak.
  • Hemiballismus merupakan gerakan-gerakan seperti melempar yang terjadi pada satu sisi tubuh, biasanya pada lengan.

PENYEBAB

Chorea dan athetosis, dapat terjadi bersama-sama sebagai choreoathetosis, bukan merupakan suatu kelainan. Chorea dan athetosis merupakan gejala yang dapat berasal dari berbagai kelainan. Chorea dan athetosis terjadi akibat aktivitas berlebihan pada basal ganglia, bagian dari otak yang membantu memperhalus dan mengkoordinasi gerakan. Pada sebagian besar bentuk chorea, terjadi peningkatan jumlah dopamin yang berlebihan, yaitu neurotransmiter utama pada basal ganglia, yang mencegah basal ganglia untuk berfungsi dengan normal. Obat-obatan dan kelainan-kelainan tertentu yang dapat meningkatkan kadar dopamin atau meningkatkan sensitifitas sel-sel saraf terhadap dopamin cenderung dapat memperburuk chorea dan athetosis.

Chorea dan athetosis terjadi pada penyakit Huntington, yang merupakan suatu kelainan degeneratif yang bersifat diturunkan (herediter). Chorea dapat terjadi pada Sydenham’s chorea (disebut juga tarian St Vitus atau penyakit Syndenham), komplikasi demam rematik (infeksi pada masa kanak-kanak yang disebabkan oleh streptococcus tertentu). Sydenham’s chorea ditandai dengan adanya gerakan-gerakan menyentak-nyentak yang tidak terkontrol dan dapat bertahan selama beberapa bulan.
Chorea terkadang terjadi pada orang berusia tua tanpa sebab yang jelas. Chorea jenis ini, disebut juga chorea senilis, cenderung mengenai otot-otot pada dan disekitar mulut. Chorea juga dapat mengenai wanita saat usia kehamilan 3 bulan pertama (keadaan ini disebut chorea gravidarum), tetapi chorea akan menghilang tanpa terapi segera setelah melahirkan. Pada kasus yang jarang, chorea dengan gejala yang mirip terjadi pada wanita yang mengkonsumsi obat-obat kontrasepsi oral. Chorea juga dapat terjadi pada lupus (systemic lupus erythematosus), aktivitas berlebihan kelenjar tiroid (hipertiroidisme), tumor atau stroke yang mengenai suatu bagian pada basal ganglia yang disebut nukleus caudatus, serta obat-obat tertentu, misalnya obat anti-psikotik.

Chorea, Athetosis, dan Hemiballismus

GEJALA

Chorea secara khas mengenai tangan, kaki, dan wajah. Gerakan-gerakan menyentak terlihat mengalir dari satu otot ke yang lainnya, dan dapat terlihat seperti tarian. Gerakan-gerakan ini dapat bergabung secara tidak kentara menjadi gerakan-gerakan yang bertujuan atau setengah bertujuan, terkadang membuat chorea menjadi sulit untuk dikenali.

Athetosis biasanya mengenai tangan dan kaki. Gerakan-gerakan menggeliat pelan seringkali bergantian dengan gerakan diam dari anggota tubuh pada posisi tertentu untuk menghasilkan gerakan yang mengalir secara berkesinambungan.
Hemiballismus mengenai satu sisi dari tubuh. Lengan lebih sering terkena daripada tungkai. Hemiballismus biasanya disebabkan oleh stroke yang mengenai daerah kecil dibawah basal ganglia, yang disebut nukleus subthalamikus. Hemiballismus dapat membuat penderita menjadi tidak aktif untuk sementara waktu, karena ketika ia mencoba untuk menggerakkan anggota tubuhnya, maka anggota tubuh tersebut dapat bergerak seperti terlempar secara tidak terkendali.

DIAGNOSA

Diagnosa dapat dibuat berdasarkan dari gejala-gejala yang ada.

Differences between chorea, athetosis, and ballismus | Brain Storiesathetosis

Sumber :http://mynewsviews.com

PENGOBATAN

Chorea yang disebabkan oleh hipertiroidisme biasanya membaik ketika gangguan diatasi. Sydenham’s chorea dan chorea yang disebabkan oleh stroke seringkali membaik secara bertahap tanpa terapi. Jika chorea disebabkan oleh pemakaian obat tertentu, maka penghentian konsumsi obat dapat membantu, tetapi chorea itu sendiri tidak selalu menghilang. Wanita hamil dengan chorea dapat ditangani dengan pemberian barbiturat selama kehamilan.

Obat-obat yang menghambat aktivitas dopamin dapat membantu untuk mengendalikan gerakan-gerakan abnormal tersebut. Obat-obat ini antara lain meliputi obat anti-psikotik (seperti haloperidol dan risperidone). Obat-obat yang mengurangi pelepasan dopamin, seperti reserpine dan tetrabenazine, juga dapat membantu. Namun, perbaikan mungkin terbatas.
Hemiballismus biasanya menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari, tetapi terkadang dapat menetap hingga 6-8 minggu. Obat0obat anti-psikotik dapat membantu untuk menekan hemiballismus.
PENCEGAHAN

– E. David, P. Michael. Chorea, Athetosis, and Hemiballismus. 2007.http://www.merckmanuals.com/

home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/movement_disorders/chorea_athetosis_and_hemiballismus.html

REFERENSI

Leave a Reply

Your email address will not be published.