Cedera Lahir

by -8 views

Cedera Lahir

Cedera lahir merupakan cedera yang terjadi saat proses persalinan, biasanya saat bayi melalui jalan lahir.

PENYEBAB

Selama proses persalinan berlangsung, hampir setiap bagian tubuh bayi bisa mengalami cedera. Jalan lahir yang dilalui bayi dibentuk oleh tulang panggul ibu. Dalam keadaan normal, bayi memiliki ruang yang cukup untuk dilalui di sepanjang jalan lahir. Tetapi, jika jalan lahir sempit atau jika janin berukuran besar (misalnya pada janin dari ibu penderita diabetes), maka bisa terjadi kesulitan saat bayi melewati jalan lahir dan bisa terjadi cedera. Selain itu, cedera lahir juga mungkin terjadi jika janin berada dalam posisi yang abnormal di dalam rahim sebelum dilahirkan.

Cedera Lahir

GEJALA

Kebanyakan cedera jalan lahir bersifat ringan dan bisa membaik dengan segera. Cedera yang paling sering terjadi adalah memar. Meskipun demikian, banyak cedera lain yang dapat terjadi saat persalinan, antara lain :

– Cedera kepala dan otak

Kebanyakan bayi lahir dengan posisi kepala lebih dulu, dimana kepala mendapatkan banyak tekanan saat proses persalinan. Saat bayi lahir, tulang-tulang kepala masih belum berhubungan, sehingga saat melewati jalan lahir, kepala bayi masih bisa disesuaikan dengan jalan lahir yang dilaluinya.

Memar dan bengkak pada kulit kepala bayi sering terjadi, tetapi tidak serius dan akan sembuh dalam waktu beberapa hari. Cedera kepala atau otak yang berat lebih jarang terjadi.

Beberapa cedera kepala yang bisa terjadi :

  • Sefalhematoma, yaitu akumulasi darah dibawah lapisan fibrosa yang tebal (periosteum) dari salah satu tulang tengkorak. Sefalhematoma bersifat lunak dan ukurannya bisa bertambah segera setelah lahir, tetapi keadaan ini akan menghilang dalam waktu beberapa minggu atau bulan tanpa terapi.
  • Fraktur (patah) pada tulang tengkorak kepala. Fraktur tulang kepala sangat jarang terjadi dan dapat sembuh dengan cepat tanpa terapi, kecuali jika fraktur yang terjadi bersifat menekan (depressed fracture).
  • Perdarahan pada otak, yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di kepala. Perdarahan bisa terjadi akibat adanya kelainan bentuk pada tulang kepala saat bayi dilahirkan atau akibat kurangnya oksigen di dalam darah. Perdarahan pada otak jauh lebih sering terjadi pada bayi-bayi yang masih sangat kecil (prematur). Hal ini terjadi karena adanya suplai darah yang tidak adekuat pada otak (iskemia) atau kurangnya jumlah oksigen dalam darah (hipoksia) saat bayi dilahirkan. Sebagian besar bayi dengan perdarahan tidak memiliki gejala. Tetapi, perdarahan bisa menyebabkan bayi menjadi letargis, sulit makan, atau bahkan bisa mengalami kejang.

Semua bayi baru lahir yang mengalami perdarahan pada kepala perlu diberikan penangan yang bersifat suportif, seperti menjaga kehangatan tubuh bayi, memberikan cairan melalui pembuluh darah, dan terapi lain untuk menjaga fungsi tubuh bayi, hingga terjadi pemulihan.

Perdarahan yang terjadi di antara lapisan otak bagian luar dan dalam (perdarahan subdural) bisa memberikan tekanan pada otak. Oleh karena itu, perdarahan subdural perlu diatasi dengan pembedahan.

– Cedera Pada Saraf

Pada kasus yang jarang, bisa terjadi cedera pada saraf, misalnya akibat tekanan pada saraf wajah yang disebabkan oleh pemakaian alat bantu (forceps) untuk mengeluarkan kepala bayi atau akibat tekanan yang didapat dari tulang panggul ibu. Cedera pada saraf wajah bisa menyebabkan kelemahan pada otot-otot wajah pada sisi yang terkena. Gejala tampak saat bayi baru lahir menangis, dimana wajah bayi tampak tidak simetris. Kelemahan biasanya akan membaik dalam waktu 2-3 bulan kemudian, dan tidak dibutuhkan tindakan untuk menanganinya.

Pada persalinan yang sulit, saraf pada salah satu lengan anak bisa teregang dan mengalami cedera. Akibatnya, bisa terjadi kelemahan atau kelumpuhan pada lengan atau tangan anak. Untuk itu, hindari melakukan gerakan ekstrim pada bahu bayi sehingga saraf dapat pulih kembali. Pada kasus yang jarang, lengan akan tetap lemah setelah beberapa minggu. Pada kasus ini, dibutuhkan pembedahan untuk memperbaiki saraf yang cedera.

Sumber : http://www.erbspalsyonline.com

Adakalanya cedera mengenai saraf yang menuju ke diafragma, akibatnya terjadi kelumpuhan pada otot diafragma sisi yang terkena dan bayi baru lahir mengalami kesulitan untuk bernafas. Cedera pada saraf di lengan dan diafragma biasanya akan sembuh sempurna dalam waktu beberapa minggu.

Meskipun sangat jarang, cedera pada medula spinalis bisa terjadi, yaitu akibat regangan yang berlebihan saat proses persalinan. Cedera ini menyebabkan kelumpuhan pada bagian dibawah lokasi cedera. Kerusakan yang terjadi pada medula spinalis seringkali bersifat permanen.

– Cedera Pada Tulang

Pada kasus yang jarang, tulang bisa menjadi patah (fraktur) saat proses persalinan yang sulit. Tulang yang paling sering patah adalah tulang selangka (clavicula). Selain itu, bisa juga terjadi patah pada tulang lengan atau tulang paha.

Bayi baru lahir yang mengalami patah tulang harus dijaga agar bagian yang patah sedapat mungkin tidak bergerak, yaitu dengan pembidaian atau dengan memasang gips. Tulang yang patah hampir selalu sembuh sempurna dan cepat.

– Cedera Pada Kulit dan Jaringan Lunak

Kulit bayi baru lahir bisa memperlihatkan adanya cedera ringan setelah lahir, terutama pada bagian-bagian yang mendapatkan tekanan saat kontraksi atau saat keluar dari jalan lahir pertama kali.

Memar dan bengkak bisa tampak di sekitar mata dan wajah pada persalinan dengan presentasi wajah (dimana wajah keluar lebih dulu). Memar dan bengkak pada skrotum atau labia bisa terjadi pada persalinan yang sungsang. Tetapi, tidak dibutuhkan terapi untuk mengatasi keadaan ini.

Sumber : http://creativemoments-lynette.blogspot.com

– Asfiksia

Asfiksia merupakan cedera yang terjadi akibat aliran darah yang terlalu sedikit pada janin atau jaringan tubuh janin, atau jika terlalu sedikit oksigen yang terdapat di dalam darah. Asfiksia bisa terjadi pada janin atau bayi baru lahir sekitar waktu persalinan.

Ada banyak penyebab terjadinya asfiksia, tetapi terkadang penyebab pastinya tidak dapat diidentifikasi. Beberapa penyebab asfiksia yang sering :

  • Perkembangan janin yang abnormal
  • Infeksi pada janin
  • Paparan terhadap obat tertentu sebelum lahir
  • Tekanan pada tali pusat atau adanya bekuan darah pada salah satu pembuluh darah di tali pusat
  • Kehilangan darah yang tiba-tiba

Asfiksia juga bisa terjadi jika plasenta tidak berfungsi secara adekuat, sehingga tidak dapat memberikan oksigen yang cukup untuk janin saat proses persalinan.

Gejala-gejala yang dapat ditemukan pada bayi yang mengalami asfiksia :

  • bayi tampak pucat dan seperti tak bernyawa
  • bernafas dengan lemah atau tidak bernafas
  • detak jantung sangat lambat
  • syok, jika penyebabnya adalah kehilangan darah yang cepat
  • gangguan pada satu atau lebih sistem organ
  • gangguan fungsi otak, dimana bayi bisa menjadi letargis, kejang, atau bahkan koma
  • gangguan fungsi ginjal

Banyak bayi yang dapat sembuh dan normal kembali, tetapi ada juga yang memiliki tanda-tanda kerusakan saraf yang menetap, mulai dari adanya gangguan belajar yang ringan sampai cerebral palsy. Beberapa bayi yang mengalami asfiksia juga bisa mengalami kematian.

Penyebab spesifik terjadinya asfiksia perlu diidentifikasi dan sedapat mungkin ditangani dengan baik. Misalnya, antibiotik diberikan untuk mengatasi infeksi, dan transfusi darah diberikan jika terdapat banyak darah yang hilang. Bayi baru lahir juga memerlukan penanganan suportif untuk menjaga fungsi pernafasan dan sirkulasi. Bayi harus dijaga agar tetap hangat, dan kadar gula darah juga harus diawasi.

DIAGNOSA

Dewasa ini angka kejadian cedera lahir telah jauh berkurang dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya pemeriksaan kehamilan yang lebih baik, seperti pemeriksaan ukuran panggul, pemeriksaan janin, dan ultrasonografi. Dengan demikian, risiko terjadinya cedera lahir dapat diturunkan.

PENGOBATAN

Penanganan cedera lahir diberikan sesuai dengan cedera lahir yang terjadi.

PENCEGAHAN

Jika hasil pemeriksaan saat kehamilan menunjukkan bahwa jalan lahir terlalu sempit atau bayi berukuran terlalu besar untuk dapat melewati jalan lahir, maka sebaiknya dilakukan operasi cesar untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada bayi.

REFERENSI

– K, Arthur E. Birth Injury. Merck Manual Home Health Handbook. 2009.

http://www.merckmanuals.com/home/childrens_health_issues/problems_in_newborns

/birth_injury.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.