Asma

by -0 views

Asma

Asma (Bronchial asthma; Exercise-induced asthma) merupakan suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan yang bersifat sementara karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu.

PENYEBAB

Pada asma, penyempitan saluran nafas merupakan suatu respon terhadap adanya rangsangan, yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran nafas.

Orang-orang dengan asma biasanya membawa gen yang membuatnya lebih rentan untuk terkena asma. Selain itu, faktor lingkungan, terutama kondisi sebelum dan sekitar masa kelahiran, juga bisa mempengaruhi terjadinya asma pada seseorang.

Asma dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, misalnya serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.

Pada serangan asma, otot polos bronkus berkontraksi sehingga menyempitkan saluran nafas (disebut bronkokonstriksi), jaringan yang melapisi saluran nafas mengalami pembengkakan karena adanya reaksi peradangan, dan terjadi pelepasan sekresi mukus ke dalam saluran nafas. Akibatnya, diameter saluran nafas menyempit, sehingga menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.

Illustration of what happens during an asthma attack

Sumber : http://www.mayoclinic.com

Pada asma, jalan nafas yang menyempit bersifat reversible, yang berarti jalan nafas akan pulih kembali dengan sendirinya atau dengan terapi yang sesuai, dimana kontraksi otot polos jalan nafas akan berhenti dan reaksi peradangan akan membaik, sehingga jalan nafas akan kembali lebar, dan aliran nafas yang masuk dan keluar paru-paru kembali normal.

Ada sel-sel tertentu pada saluran nafas (terutama sel mast) yang tampaknya berperan untuk terjadinya penyempitan saluran nafas. Sel mast yang terdapat di sepanjang bronkus melepaskan zat-zat, seperti histamin dan leukotrien, yang menyebabkan terjadinya:
– kontraksi otot polos
– peningkatan pembentukan lendir (mukus)
– migrasi sel-sel darah putih tertentu ke daerah tersebut
Sel mast mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang mereka kenal sebagai alergen, misalnya serbuk sari, debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang. Ada juga faktor pemicu lain yang dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas pada orang-orang dengan asma, misalnya infeksi, iritasi, atau bahkan pemakaian obat tertentu, seperti aspirin.

Asma juga bisa terjadi pada beberapa orang tanpa alergi tertentu. Reaksi yang sama bisa terjadi jika orang tersebut melakukan olah raga atau berada dalam cuaca dingin. Stres dan kecemasan juga bisa memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien.

Pada orang-orang dengan asma, ada jenis sel darah putih tertentu (eosnofil) yang juga terdapat pada saluran nafas. Sel ini juga melepaskan zat-zat yang berkontribusi pada menyempitnya saluran nafas.

Asma

GEJALA

Frekuensi dan beratnya serangan asma bervariasi. Sebagian penderita lebih sering terbebas dari gejala asma dan hanya sewaktu-waktu mengalami serangan sesak nafas yang singkat dan ringan. Penderita lainnya hampir selalu mengalami batuk dan mengi (bengek) serta mengalami serangan sesak nafas yang hebat setelah terkena infeksi virus, berolahraga atau terpapar oleh alergen maupun iritan. Menangis atau tertawa keras juga adakalanya bisa menyebabkan timbulnya gejala asma.

Sumber : http://www.m.webmd.com

Serangan asma bisa terjadi secara tiba-tiba, dengan ditandai dengan adanya suara nafas yang berbunyi (wheezing, mengi, bengek), batuk, dan sesak nafas. Bunyi mengi terdengar saat penderita mengeluarkan nafas. Di lain waktu, serangan asma bisa terjadi secara perlahan, dengan gejala yang muncul secara bertahap dan semakin memburuk. Serangan asma bisa berlangsung selama beberapa menit, beberapa jam, atau bahkan selama beberapa hari.

Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher. Batuk kering di malam hari atau saat melakukan olah raga.

Selama serangan asma, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan ini, penderita juga seringkali akan mengeluarkan banyak keringat.

Pada serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk berbicara karena sesak nafas yang hebat. Penderita menjadi linglung, letargis (dimana kesadaran mulai menurun, penderita seperti tidur lelap, tetapi masih dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali), dan tampak sianosis (kulit tampak kebiruan). Gejala-gejala ini merupakan tanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan penanganan darurat.

DIAGNOSA

Diagnosa asma ditegakkan berdasarkan gejala asma yang khas.

Untuk memperkuat diagnosa asma bisa dilakukan pemeriksaan tes fungsi paru berulang, misalnya dengan spirometri, yaitu dilakukan sebelum dan sesudah penderita mendapatkan obat untuk melebarkan saluran nafas. Jika hasil pemeriksaan lebih baik setelah penderita mendapatkan obat, maka sesak nafas kemungkinan disebabkan oleh asma. Spirometri juga digunakan untuk menilai beratnya sumbatan saluran nafas dan untuk memantau pengobatan.

Sumber : http://www.healthcentral.com

Menentukan faktor pemicu asma seringkali tidak mudah. Tes kulit untukalergi bisa membantu menentukan alergen yang mungkin memicu timbulnya gejala asma. Namun, munculnya reaksi alergi pada kulit bukan berarti alergen yang diperiksa tersebut pasti menyebabkan timbulnya asma. Seseorang harus tetap mengamati apakah serangan asma muncul setelah terpapar alergen tersebut atau tidak.

PENGOBATAN

Terapi asma didasarkan pada dua kelompok obat, yaitu obat anti-peradangan dan obat untuk melebarkan saluran nafas (bronkodilator).

– Obat anti-peradangan, termasuk di dalamnya kortikosteroid, leukotriene modifier, dan obat yang bekerja menstabilkan sel mast. Obat ini akan menekan reaksi peradangan yang menyempitkan jalan nafas.

Kortikosteroid bekerja menghambat respon peradangan tubuh dan sangat efektif untuk mengurangi gejala-gejala asma. Kortikosteroid merupakan obat anti-peradangan yang paling kuat dan telah menjadi bagian penting dalam terapi asma.

Kortikosteroid ada yang diberikan dengan cara dihirup (misalnya Budesonide,Fluticasone, Mometasone, dan Triamcinolone), yaitu untuk mencegah serangan asma dan memperbaiki fungsi paru. Tetapi, kortikosteroid juga bisa diberikan dengan cara diminum atau disuntikan dengan dosis yang lebih tinggi untuk orang-orang dengan serangan asma berat, misalnya prednison dan methylprednisolone. Namun, kortikosteroid yang dihirup seringkali adalah bentuk yang paling baik, karena bertindak lokal pada saluran nafas, dengan efek samping yang minimal di luar paru-paru.

Jika digunakan dalam jangka panjang, kortikosteroid perlahan-lahan dapat mengurangi kecenderungan untuk terjadinya serangan asma, yaitu dengan membuat saluran nafas menjadi kurang sensitif terhadap berbagai stimuli. Namun, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, terutama yang diminum dalam dosis yang lebih besar, bisa menimbulkan berbagai efek samping, seperti kegemukan, osteoporosis, katarak, mudah memar, penipisan kulit, sulit tidur (insomnia), peningkatan kadar gula darah, dan, pada kasus yang jarang, psikosis.

Leukotriene modifier

Obat-obat golongan leukotriene modifier, atau disebut juga penghambat leukotriene, juga dapat membantu mengendalikan asma, contohnya montelukast dan zafirlukast. Obat ini merupakan obat anti-peradangan yang bekerja dengan cara mencegah kerja atau pembentukan leukotriene, yaitu zat kimia yang dibuat tubuh untuk terjadinya bronkokonstriksi (penyempitan saluran nafas). Obat ini lebih digunakan untuk mencegah serangan asma ketimbang untuk mengatasinya.

Mast Cell Stabilizer

Obat anti-peradangan lain yang dapat digunakan untuk asma adalah obat yang menstabilkan sel mast (misalnya cromolyn). Obat ini bekerja dengan menghambat pelepasan zat-zat kimia yang berperan dalam proses peradangan dari sel mast, sehingga mencegah terjadinya penyempitan saluran nafas. Obat ini berguna untuk mencegah serangan asma, tetapi tidak untuk mengatasi serangan asma.

– Obat bronkodilator, misalnya obat golongan beta-adrenergik, anti-kolinergik dan methylxanthine. Obat ini membantu melebarkan dan relaksasi jalan nafas.

Beta-adrenergik

Obat golongan beta-adrenergik kerja singkat biasanya merupakan obat yang paling baik untuk meredakan serangan asma. Obat ini juga digunakan untuk mencegah asma yang dicetuskan oleh aktivitas atau olahraga.

Obat golongan beta-adrenergik (seperti Albuterol atau Salbutamol) termasuk bronkodilator, karena obat ini menstimulasi reseptor beta-adrenergik untuk melebarkan saluran nafas. Obat-obat bronkodilator (seperti Albuterol) hanya bekerja pada reseptor beta2-adrenergik, yang terutama terdapat pada sel-sel di paru-paru, sehingga memiliki efek samping yang lebih sedikit pada organ-organ tubuh lainnya. Sebagian besar obat golongan beta-adrenergik, terutama yang dihirup, bekerja dalam waktu beberapa menit, sehingga paling sering digunakan sebagai obat penyelamat saat serangan asma, tetapi efeknya hanya bertahan selama 2-6 jam.

Sumber : http://www.healthcentral.com

Anti-kolinergik

Obat-obat anti-kolinergik, seperti ipratropium, bekerja dengan menghambat asetilkolin, sehingga tidak menyebabkan kontraksi otot polos dan menghasilkan mukus yang berlebihan di bronkus. Obat anti-kolinergik dipakai dengan cara dihirup dan biasanya digunakan sebagai kombinasi dengan obat beta-adrenergik untuk menghasilkan efek yang lebih besar ketimbang efek tunggalnya.

Methylxanthine

Methylxanthine (Theophylline) merupakan obat lain yang bisa membuat terjadinya bronkodilatasi. Penggunaan theophylline harus dimonitor ketat oleh dokter, karena jumlah obat yang terlalu sedikit di dalam darah mungkin hanya akan memberikan sedikit manfaat, tetapi jumlah obat yang terlalu banyak di dalam darah bisa menyebabkan gangguan irama jantung yang mengancam nyawa atau kejang. Adanya berbagai efek samping yang bisa terjadi menyebabkan theophylline lebih jarang digunakan dibandingkan dengan obat-obat lainnya.

– Imunomodulator

Selain itu semua, ada obat lain yang langsung bekerja pada sistem imunitas tubuh, yang disebut sebagai imunomodulator (misalnya Omalizumab). Obat ini terkadang digunakan untuk orang-orang dengan asma berat, tetapi sebagian besar orang tidak membutuhkan obat ini.

Omalizumab merupakan obat yang bekerja langsung pada antibodi yang disebut sebagai Imunoglobulin E (IgE). Omalizumab digunakan pada orang-orang dengan asma yang juga memiliki alergi berat dan kadar IgE yang tinggi di dalam darah. Omalizumab mencegah IgE berikatan dengan sel mast, sehingga mencegah pelepasan zat-zat kimia yang berperan dalam menimbulkan peradangan, yang dapat menyempitkan saluran nafas.

Orang-orang dengan serangan asma yang ringan biasanya bisa teratasi dengan menggunakan obat inhaler dari dokter, misalnya albuterol. Pemakaian obat inhaler bisa diulang sampai 3 kali dengan jarak 20 menit jika diperlukan. Serangan biasanya akan menghilang dalam waktu 5-10 menit. Tetapi, jika serangan tidak menghilang setelah obat diulang 3 kali atau gejala semakin memburuk, maka penderita harus segera mendapatkan penanganan lebih lanjut dari dokter.

Sumber : http://www.bbc.co.uk

Orang-orang dengan gejala yang berat harus segera mendapatkan pertolongan darurat. Untuk serangan yang berat, bisa diberikan obat-obat golongan beta-adrenergik dan terkadang obat anti-kolinergik. Penderita juga mungkin perlu diberikan kortikosteroiddan juga oksigen. Pada kasus tertentu, dimana serangan asma yang terjadi sangat berat, adakalanya diperlukan alat bantu untuk bisa bernafas, yaitu dengan menggunakan ventilator.

PENCEGAHAN

Asma merupakan suatu kondisi kronis yang tidak bisa disembuhkan, tetapi serangan seringkali bisa dicegah. Serangan asma umumnya bisa dicegah jika faktor-faktor pemicunya bisa diidentifikasi dan dihilangkan atau dihindari.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan :

  • Jangan merokok
  • Hindari paparan orang-orang dengan infeksi saluran nafas bagian atas
  • Serangan asma yang dipicu oleh olahraga seringkali bisa dicegah dengan menggunakan obat sebelum melakukan olahraga.
  • Hilangkan atau hindari faktor-faktor pemicu serangan asma, misalnya debu, alergen, atau obat tertentu, seperti aspirin.
  • Terapi desensitisasi terhadap alergen juga mungkin dapat membantu mencegah terjadinya serangan asma.

Selain itu, sebagian besar penderita asma mengkonsumsi obat-obatan untuk mencegah serangan asma, misalnya obat kortikosteroid yang dihirup atau diminum, obat golongan beta-adrenergik kerja panjang, atau antihistamin.

REFERENSI

– M, Matthew C. P, Stephen P. Asthma. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

http://www.merckmanuals.com/home/lung_and_airway_disorders/asthma/asthma.html

– Mayo Clinic. Asthma. 2012. http://www.mayoclinic.com/health/asthma/DS00021

Leave a Reply

Your email address will not be published.