Displasia Bronkopulmoner

by -1 views

Displasia Bronkopulmoner

Displasia Bronkopulmoner adalah cedera pada paru-paru akibat terapi oksigen konsentrasi tinggi dan pemakaian ventilator. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi prematur.

PENYEBAB

Displasia bronkopulmoner terjadi pada bayi yang menerima terapi oksigen konsentrasi tinggi untuk waktu yang lama dan menggunakan ventilator dalam jangka panjang (biasanya lebih dari 1 minggu), untuk mengatasisindroma gawat pernafasan pada bayi baru lahir.

Displasia bronkopulmoner bisa terjadi akibat meningkatnya tekanan di dalam paru-paru karena pemakaian ventilator mekanik atau karena toksisitas oksigen yang terjadi akibat paparan oksigen konsentrasi tinggi untuk waktu lama.

Faktor risiko terjadinya displasia bronkopulmoner:

  • Prematuritas (biasanya pada bayi yang dilahirkan sebelum usia kehamilan 32 minggu)
  • Infeksi saluran nafas
  • Penyakit jantung bawaan
  • Penyakit berat lainnya pada bayi baru lahir yang memerlukan terapi oksigen atau ventilator
  • Displasia Bronkopulmoner

    GEJALA

    Gejala displasia bronkopulmoner berupa:
    – Pernafasan yang cepat
    – Warna kulit kebiruan
    – Batuk
    – Sesak nafas

    DIAGNOSA

    Diagnosis didasarkan dari gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosa :
    – rontgen dada
    – gas darah arteri
    – CT scan dada
    – oksimetri

    PENGOBATAN

    Tidak ada pengobatan yang dapat segera menyembuhkan displasia bronkopulmoner. Penanganan ditujuan untuk memberikan bantuan pernafasan dan memenuhi kebutuhan oksigen pada bayi, serta membuat mereka mampu untuk tumbuh dan berkembang.

    Bayi yang didiagnosa mengalami displasian bronkopulmoner memerlukan ruang perawatan intensif (NICU-Newborn Intensive Care Unit) sampai mereka mampu bernafas dengan baik tanpa bantuan alat bantu (ventilator).

    Ventilator biasanya diperlukan untuk memberikan tekanan pada paru-paru agar jaringan paru-paru mengembang dan untuk memberikan oksigen tambahan. Jika bayi sudah dapat menyesuaikan diri, maka tekanan dan konsentrasi oksigen secara berangsur-angsur akan dikurangi. Ketika ventilator dilepas, oksigen bisa terus diberikan melalui masker atau selang kecil yang dimasukkan ke lubang hidung, selama beberapa minggu atau beberapa bulan.

    Bayi dengan displasia bronkopulmoner juga diberikan berbagai obat untuk membantu fungsi paru-paru, antara lain obat untuk melebarkan saluran nafas (bronkodilator) dan obat untuk membuang penimbunan cairan di dalam paru-paru (diuretik). Pada kasus yang berat, bisa diberikan obat anti-peradangan (steroid) untuk jangka pendek.

    Antibiotika terkadang diperlukan untuk melawan infeksi bakteri, karena bayi dengan displasia bronkopulmoner lebih rentan untuk terkena pneumonia. Selain itu, bisa diberikan suatu zat yang disebut surfaktan untuk memperbaiki fungsi pernafasan.

    Makanan biasanya diberikan melalui selang yang dimasukkan ke lambung. Diperlukan ekstra kalori karena bayi memerlukan kalori yang lebih untuk bisa bernafas. Karena cairan cenderung tertimbun di dalam paru-paru akibat peradangan, maka asupan cairan juga perlu dibatasi.

    Setelah dirawat selama beberapa bulan, kadang bayi bisa meninggal. Pada bayi yang selamat, gangguan pernafasan secara berangsur-angsur akan menghilang, tetapi keadaan ini membutuhkan waktu yang lama. Jaringan paru yang mengeras akan selalu memiliki fungsi yang buruk, tetapi seiring dengan pertumbuhan bayi, terbentuk jaringan paru-paru baru yang sehat, dan pada akhirnya diharapkan dapat mengambil alih sebagian besar fungsi pernafasan dari jaringan paru yang terganggu. Tetapi pada beberapa tahun pertama, bayi berisiko tinggi terkena pneumonia (terutama yang disebabkan oleh virus). Untuk itu, bisa diberikan antibodi terhadap RSV (respiratory syncytial virus).

    PENCEGAHAN

    Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah terjadinya displasia bronkopulmoner :

    • Sedapat mungkin cegah terjadinya persalinan prematur. Selama hamil, lakukan perawatan kehamilan yang baik untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya.
    • Alat bantu pernafasan hanya dipakai jika memang diharuskan, dan dengan pengaturan yang sebisa mungkin paling rendah untuk menghindari terjadinya cedera pada paru-paru.
    • Alat bantu pernafasan dilepaskan secepat mungkin atau pemakaiannya dipersingkat setelah kondisi bayi dinilai aman.
    • Bayi bisa diberikan suatu zat, yang disebut surfaktan, untuk membantu menjaga paru-paru bayi tetap terbuka.

    Beberapa cara yang perlu dilakukan untuk mencegah infeksi RSV pada bayi setelah pulang dari rumah sakit :

    • cuci tangan dengan air hangat dan sabun sebelum menyentuh bayi
    • orang-orang yang terkena flu atau demam jangan melakukan kontak dengan bayi dan gunakan masker
    • hindari kontak dengan anak-anak yang masih kecil, karena RSV sangat sering terjadi dan mudah menular pada anak-anak
    • jangan merokok di dalam rumah, mobil, atau dimanapun di sekitar bayi

    REFERENSI

    – G, Jay S. Bronchopulmonary Dysplasia. Kids Health. 2011.

    http://kidshealth.org/parent/medical/lungs/bpd.html#

    – H, Denis. Bronchopulmonary Dysplasia. Medline Plus. 2013.

    http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001088.htm

    – K, Arthur E. Bronchopulmonary Dysplasia. Merck Manual Home Health Handbook. 2009.

    http://www.merckmanuals.com/home/childrens_health_issues/problems_in_newborns/

    bronchopulmonary_dysplasia.html

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.