Disfungsi Seksual Pria

by -2 views

Disfungsi Seksual Pria

Pada laki-laki, disfungsi seksual mengacu kepada kesulitan untuk terlibat dalam hubungan seks. Disfungsi seksual meliputi berbagai gangguan yang mempengaruhi gairah seks (libido), kemampuan untuk mencapai atau menjaga ereksi (disfungsi ereksi, atau impoten), ejakulasi, dan kemampuan untuk mencapi orgasme.

Anda perlu tahu ….
  • Disfungsi seksual bisa mempengaruhi dorongan seks kemampuan untukmengalami ereksi, ejakulasi, atau orgasme.
  • Seberapa besar disfungsi seksual berhubungan dengan faktor fisikatau psikologi bisa jadi sulitatau mustahil untuk dibedakan.

Disfungsi ereksi bisa diakibatkan baik dari faktor fisik atau psikologi. Banyak gangguan seks disebabkan dari kombinasi kedua faktor ini. Masalah fisik juga bisa menyebabkan timbulnya masalah psikologi (seperti gelisah, takut, atau stress). Para pria kadangkala merasa tertekan baik karena dirinya sendiri atau pasangannya untuk dapat melakukan seks dengan baik dan menjadi terganggu ketika tidak dapat melakukannya. Kecemasan bisa menjadi memperburuk kemampuan laki-laki untuk menikmati hubungan seks.

Penyebab-penyebab psikologi pada disfungsi seksual
  • Marah dengan pasangan.
  • Gelisah.
  • Depresi.
  • Berselisih atau bosan dengan pasangan.
  • Takut menghamili, bergantung kepada orang lain, atau kehilangan kendali.
  • Cuek dari kegiatan seks atau pada pasangan.
  • Merasa bersalah.
  • Terhalang atau terganggu mengenai tingkah laku seks.
  • Cemas (khawatir mengenai performa selama hubungan).
  • Mengalami trauma seks sebelumnya (misal, diperkosa, hubungan sedarah,kekerasan seks, atau disfungsi seks sebelumnya).

Disfungsi ereksi adalah disfungsi seksual yang paling sering terjadi pada pria. Penurunan libido juga terjadi beberapa pria. Gangguan ejakulasi meliputi ejakulasi yang tidak terkendali sebelum atau segera setelah penetrasi vagina (ejakulasi premature), ejakulasi di dalam kandung kemih (ejakulasi retrograde), dan ketidakmampuan untuk ejakulasi (anejaculation).

Fungsi Seksual Normal

Fungsi seksual normal adalah interaksi kompleks meliputi baik fisik maupun psikis (pikiran, ingatan, dan emosi). Saraf, sirkulasi, dan sistem kelenjar endokrin (hormonal) seluruhnya berinteraksi dengan pikiran untuk menghasilkan reaksi seksual. Keseimbangan dan hubungan antara seluruh bagian sistem saraf mengendalikan reaksi seks pada pria.

Hasrat (juga disebut gairah seks atau libido) adalah keinginan untuk terlibat di dalam aktifitas seks. Hal itu kemungkinan dipicu oleh pikiran, perkataan, penglihatan, penciuman, atau sentuhan. Hasrat menyebabkan siklus tahap awal pada reaksi seks, terangsang.

Aktivitas seksual dan penyakit jantung

Kegiatan seks biasanya hanya sedikit membebani jantung dibandingkan kegiatan fisik berat dan menengah oleh karena itu biasanya aman untuk pria dengan penyakit jantung. Meskipun demikian, resiko serangan jantung tetap lebih tinggi selama kegiatan seks dibandingkan selama istirahat, namun resiko masih relatif rendah sepanjang aktivitas seks.

Pria dengan penyakit jantung dan pembuluh darah (termasuk angina, tekanan darah tinggi, gagal jantung, irama jantung yang tidak normal, dan penyumbatan pada klep aortic (aortic stenosis)) membutuhkan konsultasi dengan dokter untuk aktivitas seksual mereka. Biasanya aktivitas seksual relatif aman pada penyakit yang ringan, jika hanya beberapa gejala, dan jika tekanan darah normal. Jika penyakit lebih parah atau jika penderita memiliki kondisi lain yang membuat serangan jantung terjadi, pemeriksaan medis mungkin diperlukan untuk memastikan seberapa aman kegiatan seks dapat dilakukan. Jika penyakitnya parah atau jika pria tersebut memiliki pembesaran jantung yang menyumbat aliran darah meninggalkan ventrikel sebelah kiri (obstructive cardiomyopathy), kegiatan seks harus ditunda sampai setelah pengobatan mengurangi keparahan pada gejala-gejala. Aktivitas seks harus ditunda sampai setidaknya 2 sampai 6 minggu setelah serangan jantung.

Penggunaan sildenafil, vardenafil, dan tadalafil dapat berbahaya pada pria yang menggunakan nitrogliserin, maka sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan ini.

Pemeriksaan yang sering dilakukan untuk memastikan apakah kegiatan seks aman untuk dilakukan meliputi : rekam jantung untuk melihat kecukupan suplai darah ketika orang tersebut berolahraga atau di atas treadmill. Jika selama olahraga suplai darah tercukupi, maka risiko serangan jantung selama aktifitas seks kurang mungkin sekali.

Terangsang adalah timbulnya hasrat seksual. Selama terangsang, otak mengirimkan sinyal saraf melalui tulang belakang menuju penis. Arteri mensuplai darah menuju jaringan erektil (corpora cavernosa dan corpus spongiosum) bereaksi dengan pelebaran (dilating). Arteri yang membesar secara dramatis meningkatkan aliran darah menuju daerah ini, dimana menjadi penuh dengan darah dan meluas. Adanya otot yang lebih ketat di sekitar vena secara normal menahan darah di penis, memperlambat aliran darah dan meningkatkan tekanan darah pada penis. Tekanan darah yang meningkat menyebabkan penis bertambah dalam panjang dan diameternya, menghasilkan ereksi. Juga, tegangan otot meningkat di seluruh tubuh.

Pada tahap plateau, rangsangan dan otot bertahan atau lebih intensif. Orgasme adalah puncak atau klimaks pada rangsangan seks. Ketika orgasme, otot yang menegang di seluruh tubuh lebih meningkat, kemudian terjadi kontraksi pada otot panggul diikuti pelepasan otot yang tegang. Semen biasanya, tetapi tidak selalu, diejakulasi dari penis. Ejakulasi terjadi ketika saraf merangsang kontraksi otot di dalam organ reproduksi pria seperti seminal vesicle, prostat, dan pembuluh pada epididimid dan vas deferens. Kontraksi ini mendorong semen ke dalam urethra. Kontraksi pada otot di sekitar urethra lebih lanjut menggerakkan semen melalui dan keluar dari penis. Leher kandung kemih juga menegang untuk menjaga semen tidak mengalir ke kandung kemih.

Meskipun ejakulasi dan orgasme seringkali terjadi hampir serempak, peristiwanya beda. Ejakulasi bisa terjadi tanpa orgasme. Juga, orgasme bisa terjadi tanpa ejakulasi, khususnya sebelum pubertas, atau dengan menggunakan obat-obatan tertentu (seperti beberapa antidepresan) atau setelah operasi (seperti pengangkatan kelenjar prostat). Kebanyakan pria mendapatkan orgasme sebagai kenikmatan yang tinggi.

Pada fase resolusi, penis kembali dalam keadaan tidak ereksi. Sekali ejakulasi terjadi atau orgasme terjadi, arteri penile mengkerut dan pembuluh relaks, mengurangi aliran darah, meningkatkan aliran darah keluar dan menyebabkan penis menjadi lemas (detumescence). Setelah orgasme, ereksi tidak bisa diperoleh untuk suatu jangka waktu (periode refractory), sering selama 20 menit atau kurang pada pria muda tetapi lebih lama pada pria yang lebih tua. Waktu diantara ereksi biasanya meningkat sesuai usia pria.

Disfungsi Seksual Pria

GEJALA

DIAGNOSA

PENGOBATAN

REFERENSI

Leave a Reply

Your email address will not be published.