Cedera Medula Spinalis Akibat Kecelakaan

by -2 views

Cedera Medula Spinalis Akibat Kecelakaan

Kebanyakan cedera medula spinalsi disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Cedera dapat mengenai medula spinalis atau pangkal saraf tulang belakang yang berjalan melewati celah di antara tulang belakang.

Jika medula spinalis mengalami cedera karena kecelakaan, bisa terjadi kerusakan fungsi (sebagian maupun total) saraf pada daerah yang mengalami cedera atau di bawahnya.

PENYEBAB

Cedera medula spinalis dapat meliputi :

  • Guncangan akibat trauma tumpul, misalnya terjatuh atau tabrakan
  • Penekanan oleh tulang yang patah, pembengkakan, atau kumpulan darah (hematoma)
  • Robekan sebagian atau seluruhnya
Kebanyakan cedera medula spinalis terjadi akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Penyebab lain yang dapat menyebabkan terjadinya cedera medula spinalis, antara lain jatuh, olahraga, kecelakaan kerja, dan tindak kekerasan lain.

Cedera Medula Spinalis Akibat Kecelakaan

GEJALA

Jika medula spinalis mengalami cedera, maka saraf-saraf yang berada pada daerah yang mengalami cedera dan yang di bawahnya akan mengalami gangguan fungsi, yang menyebabkan hilangnya kontrol otot dan juga hilangnya sensasi.

Hilangnya kontrol otot atau sensasi dapat bersifat sementara atau menetap, sebagian atau menyeluruh, tergantung dari beratnya cedera yang terjadi. Cedera yang menyebabkan putusnya medula spinalis atau merusak jalur jalannya saraf di medula spinalis menyebabkan hilangnya fungsi yang menetap, tetapi trauma tumpul yang mengguncang medula spinalis dapat menyebabkan hilangnya fungsi sementara, yaitu bisa sampai beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan. Terkadang adanya pembengkakan dapat menimbulkan gejala-gejala yang tampaknya lebih berat dari cedera yang sebenarnya terjadi, tetapi gejala-gejala tersebut biasanya akan membaik seiring dengan meredanya pembengkakan.

Hilanya kontrol otot sebagian menyebabkan timbulnya kelemahan pada otot. Sedangkan kontrol otot yang hilang seluruhnya menyebabkan kelumpuhan. Ketika otot mengalami kelumpuhan, maka otot tersebut seringkali kehilangan tonus ototnya sehingga menjadi lemas (flaccid). Beberapa minggu kemudian, kelumpuhan dapat berkembang menjadi spasme otot yang involunter (tidak disadari) dan lama (paralysis spastik).

Kerusakan hebat dari medula spinalis di pertengahan punggung bisa menyebabkan kelumpuhan pada tungkai, tetapi lengan masih tetap berfungsi secara normal.Gerakan refleks tertentu yang tidak dikendalikan oleh otak akan tetap utuh atau bahkan meningkat.Contohnya, refleks lutut tetap ada atau bahkan meningkat. Meningkatnya refleks ini dapat menyebabkan spasme pada tungkai.Refleks yang tetap dipertahankan menyebabkan otot yang terkena menjadi memendek, sehingga dapat terjadi kelumpuhan jenisspastik. Otot yang spastik teraba kencang dan keras dan sering mengalami kedutan.

DIAGNOSA

Cedera medula spinalis paling baik didiagnosa dengan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Pemeriksaan alternatif yang dapat dilakukan adalah CT (Computed Tomography) scan.

Cedera pada tulang punggung (yang mengenai tulang) dapat didiagnosa dengan akurat dengan CT scan. Namun, pemeriksaan sinar-x terkadang dilakukan pertama kali karena biasanya lebih tersedia dibandingkan CT scan.

PENGOBATAN

Pada orang yang mungkin mendapat cedera medula spinalis, jangan dipindahkan begitu saja. Yang pertama kali dilakukan adalah memastikan bahwa penderita dapat bernafas dan mencegah cedera lebih lanjut. Penderita harus dipindahkan dengan hati-hati. Biasanya tenaga medis akan memfiksasi penderita pada papan yang keras dan memberikan bantalan untuk mencegah pergerakan secara hati-hati. Bagian leher dapat diberikan penahan yang keras untuk mencegah pergerakan (collar neck).

Jika tulang belakang mengalami kerusakan hebat, maka tulang belakang bisa tidak berada pada tempatnya atau bisa juga hancur, sehingga membuat tulang belakang menjadi tidak stabil. Untuk itu, pergerakan sedikit saja dapat membuat tulang belakang bergeser sehingga memberi tekanan pada medula spinalis. Penekanan pada medula spinalis meningkatkan risiko untuk terjadinya kelumpuhan yang menetap.

Pembedahan diperlukan untuk membuang darah dan fragmen pecahan tulang yang terkumpul di sekitar medula spinalis. Jika tulang belakang tidak stabil, maka penderita dijaga agar tidak bergerak sampai tulang dan jaringan lain disekitarnya membaik. Terkadang dokter bedah memasang implan untuk menstabilkan tulang belakang sehingga tidak bergerak dan menyebabkan cedera tambahan. Jika cedera hanya menyebabkan gangguan fungsi sebagian, maka pembedahan dilakukan segera setelah cedera terjadi sehingga dapat membuat perbaikan pada gangguan fungsi dan dapat membaik lebih cepat.

Pemberian obat-obatan dapat berguna, yaitu :

  • Kortikosteroid, misalnya methylprednisolone, untuk mencegah pembengkakan di sekitar tempat cedera. Obat ini harus diberikan dalam waktu 8 jam setelah terjadinya cedera untuk efek yang efektif dan dilanjutkan selama sekitar 24 jam. Namun, tidak semua dokter berpendapat bahwa kortikosteroid dapat membantu.
  • Obat penghilang nyeri (analgesik), yaitu jika cedera yang terjadi menimbulkan rasa nyeri. Awalnya dapat diberikan obat-obat golongan opioid. Obat-obat penghilang nyeri yang lebih ringan, misalnya Ibuprofen atau Acetaminophen, dapat diberikan kemudian.
  • Relaksan otot, misalnya Baclofen, diberikan jika terjadi spasme otot.

Rehabilitasi, seperti terapi fisik dan terapi okupasi, dapat membantu penderita untuk pulih lebih cepat dan lebih sempurna.

Penyembuhan lebih mungkin terjadi jika kelumpuhan bersifat parsial (sebagian) dan jika gerakan atau sensasi dapat kembali dalam minggu pertama setelah cedera terjadi. Jika fungsi-fungsi ini tidak kembali dalam waktu 6 bulan, maka gangguan yang terjadi cenderung menetap.

REFERENSI

– R Michael. Injuries of The Spinal Cord and Vertebrae. 2007.

http://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/

spinal_cord_disorders/injuries_of_the_spinal_cord_and_vertebrae.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.