Bronkientasis (Bronchiectasis)

by -1 views

Bronkientasis (Bronchiectasis)

Bronkiektasis (bronchiectasis) adalah suatu pelebaran (dilatasi) abnormal yang menetap dari saluran nafas besar (bronkus) akibat adanya kerusakan pada dinding saluran nafas.

PENYEBAB

Bronkiektasis bukan merupakan suatu penyakit tunggal, tetapi bisa terjadi jika terdapat suatu keadaan yang menyebabkan kerusakan langsung pada dinding bronkus atau tidak langsung melalui ganguan pertahanan jalan nafas yang normal.

Jalan nafas memiliki bulu getar kecil (silia) pada sel-sel yang melapisi jalan nafas. Normalnya, silia-silia ini akan menekuk dan membalik, untuk menggerakkan lapisan lendir tipis yang normalnya melapisi jalan nafas, sehingga bakteri dan partikel berbahaya yang terperangkap pada lapisan lendir ini bisa dikeluarkan dari tenggorokan dan dibatukkan keluar atau tertelan.

Jika terdapat gangguan langsung atau tidak langsung, maka dinding bronkus yang terkena akan mengalami kerusakan dan meradang. Peradangan pada dinding bronkus menyebabkan dinding bronkus menjadi kurang elastis, sehingga jalan nafas menjadi melebar (dilatasi) dan membentuk penonjolan-penonjolan kecil. Peradangan juga meningkatkan sekresi lendir pada saluran nafas, tetapi karena sel-sel bersilia mengalami kerusakan, maka sekret ini akan terakumulasi pada jalan nafas yang melebar dan menjadi tempat berkembangnya bakteri. Pada akhirnya, bakteri akan menyebabkan kerusakan dinding bronkus lebih lanjut.

Sumber: http://www.merckmanuals.com

Bronkiektasis bisa mengenai banyak daerah pada paru-paru (bronkiektasis difus), atau bisa juga hanya tampak pada satu atau dua daerah saja (bronkiektasis fokal). Biasanya bronkiektasis menyebabkan pelebaran pada jalan nafas yang berukuran sedang, tetapi seringkali jalan nafas yang lebih kecil menjadi rusak dan terbentuk jaringan parut.

Berbagai keadaan yang bisa menyebabkan terjadinya bronkiektasis :

  1. Infeksi pada saluran nafas
    – Infeksi virus, seperti virus campak, adenovirus, atau virus influenza
    – Infeksi bakteri, seperti Klebsiella, Staphylococcus, Pseudomonas, Tuberkulosa
    – Infeksi jamur
    – Infeksi mikoplasma
  2. Sumbatan bronkus
    – Benda asing yang terisap
    – Pembesaran kelenjar getah bening
    – Tumor paru
    – Sumbatan oleh lendir
  3. Cedera penghirupan
    – Cedera karena asap, gas atau partikel beracun
    – Menghirup asam lambung dan partikel makanan
  4. Keadaan genetik
    – Fibrosis kistik
    – Diskinesia silia, termasuk sindroma Kartagener
    – Kekurangan alfa-1-antitripsin
  5. Kelainan imunologik
    – Kekurangan imunoglobulin
    – Gangguan fungsi sel darah putih
    – Kekurangan koplemen
    – Kelainan autoimun atau hiperimun tertentu seperti rematoid artritis, kolitis ulserativa
  6. Keadaan lain
    – Penyalahgunaan obat (misalnya heroin)
    – Infeksi HIV
    – Sindroma Young (azoospermia obstruktif)
    – Sindroma Marfan

Bronkientasis (Bronchiectasis)

GEJALA

Gejala seringkali muncul secara bertahap, dan bisa terjadi dalam waktu beberapa bulan atau tahun setelah kejadian yang menyebabkan terjadinya bronkiektasis.

Gejala yang muncul bisa berupa:
– warna kulit kebiruan
– bau nafas
– batuk kronis dengan dahak yang banyak dan berbau busuk
clubbing fingers (jari-jari tangan menyerupai tabuh genderang)
– batuk darah
– batuk semakin memburuk jika penderita berbaring miring
– lelah
– pucat
– sesak nafas yang semakin memburuk jika penderita melakukan aktivitas
– penurunan berat badan
wheezing (bunyi nafas mengi/bengek)

DIAGNOSA

Dugaan adanya bronkiektasis didasarkan dari gejala-gejala yang ada dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memastikan diagnosa, seperti foto sinar-x atau CT scan dada.

Sumber : http://radiopaedia.org

Setelah terdiagnosa bronkiektasis, bisa dilakukan pemeriksaan lain untuk memeriksa gangguan lain yang bisa menyebabkan atau berkontribusi untuk terjadinya bronkiektasis, misalnya :

  • Pemeriksaan HIV
  • Pemeriksaan kadar garam dalam keringat untuk fibrosis kistik
  • Hitung jenis darah
  • Analisa serum immunoglobulin
  • Tes PPD untuk infeksi TBC
  • Tes presipitin aspergillosis untuk memeriksa tanda-tanda adanya jamur aspergillosis
  • Tes fungsi paru juga dapat dilakukan untuk menentukan seberapa berat gangguan paru yang terjadi.

    Pemeriksaan kultur dahak bisa dilakukan untuk menentukan jenis bakteri dan antibiotik apa yang paling efektif untuk bakteri tersebut.

    PENGOBATAN

    Penanganan bronkiektasis bertujuan untuk :

    • sebisa mungkin menghilangkan infeksi
    • mencegah terjadinya infeksi tertentu dengan imunisasi
    • mengurangi produksi lendir pada saluran nafas
    • mengurangi peradangan
    • mengatasi sumbatan jalan nafas

    Terapi yang diberikan untuk mengatasi bronkiektasis :

    • Antibiotika
    • Obat untuk melebarkan saluran nafas (bronkodilator). dan terkadang juga diberikan kortikosteroid
    • Terapi untuk mengeluarkan lendir dari saluran nafas, misalnya dengan menghirup uap larutan air garam
    • Oksigen, perlu diberikan jika kadar oksigen di dalam darah rendah.

    Obat untuk mengencerkan dahak (mukolitik) juga bisa diberikan untuk penderita dengan fibrosis kistik.

    Untuk mendeteksi dan mengatasi sumbatan bronkus, bisa dilakukan bronkoskopi. Pada kasus yang jarang, sebagian paru-paru perlu diangkat melalui pembedahan. Pengangkatan jaringan paru biasanya hanya dilakukan jika penyakit terbatas pada satu paru, atau satu lobus paru, atau satu segmen paru. Pembedahan bisa dipertimbangkan untuk orang-orang yang mengalami infeksi berulang, meskipun telah mendapatkan terapi, atau untuk penderita yang mengalami batuk darah dalam jumlah banyak. Adakalanya dilakukan embolisasi untuk menghentikan perdarahan yang terjadi saat batuk.

    Transplantasi paru mungkin perlu dilakukan pada beberapa orang yang mengalami bronkiektasis berat, kebanyakan pada mereka yang juga memiliki fibrosis kistik berat.

    Prognosis untuk orang-orang dengan bronkiektasis tergantung pada penyebab dan seberapa baik infeksi dan komplikasi lainnya dicegah atau dikendalikan. Penderita yang memiliki gangguan lain, seperti emfisema atau bronkitis kronis, dan penderita yang memiliki komplikasi, seperti hipertensi pulmonar, cenderung memiliki prognosis yang buruk.

    PENCEGAHAN

    Identifikasi awal dan penanganan berbagai kondisi yang cenderung menyebabkan bronkiektasis perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya bronkiektasis atau mengurangi keparahan penyakit yang terjadi.

    Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah dan mengurangi keparahan terjadinya bronkiektasis :

    • Imunisasi, misalnya imunisasi campak, pertusis, influenza, pneumokokus
    • Pemberian asupan gizi yang baik
    • Pemberian antibiotik yang sesuai sejak awal terjadinya infeksi paru
    • Menghindari paparan debu, gas, asap, dan uap berbahaya
    • Mencegah masuknya benda asing ke jalan nafas anak, yaitu dengan memperhatikan anak dengan baik apa yang mereka masukkan ke dalam mulut

    Pengobatan dengan imunoglobulin pada sindroma kekurangan imunoglobulin mencegah infeksi berulang yang telah mengalami komplikasi.

    Penggunaan anti peradangan yang tepat (seperti kortikosteroid), terutama pada penderita bronkopneumonia alergika aspergilosis, bisa mencegah kerusakan bronkus yang akan menyebabkan terjadinya bronkiektasis.

    REFERENSI

    – C, Basak. et al. Bronchiectasis. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

    http://www.merckmanuals.com/home/lung_and_airway_disorders/bronchiectasis_and_atelectasis

    /bronchiectasis.html

    – Z, David. Bronchiectasis. Medline Plus. 2012.

    http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000144.htm

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.