Abses Paru

by -1 views

Abses Paru

Abses paru merupakan suatu rongga berisi nanah di paru-paru yang diliputi oleh jaringan yang meradang dan disebabkan oleh adanya infeksi.

PENYEBAB

Abses paru biasanya disebabkan oleh bakteri yang normalnya terdapat di mulut atau tenggorokan, tetapi terhirup masuk (teraspirasi) ke dalam paru-paru dan menimbulkan infeksi. Seringkali bakteri berasal dari adanya penyakit periodontal (jaringan di sekitar gigi) pada penderita. Namun, tubuh memiliki sistem pertahanan (misalnya batuk) untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam paru-paru.

Infeksi biasanya terjadi pada :

– orang yang berada dalam keadaan tidak sadar atau sangat mengantuk karena pengaruh obat penenang, obat bius atau penyalahgunaan alkohol
– penderita penyakit sistem saraf

Jika bakteri yang masuk ke paru-paru tidak dapat dimusnahkan oleh tubuh, maka akan terjadi pneumonia aspirasi dan kemudian menyebabkan nekrosis (kematian jaringan), yang berakhir dengan pembentukan abses.

Pada orang-orang dengan fungsi kekebalan tubuh yang buruk, abses paru bisa disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak terdapat di paru-paru, misalnya jamur atau Mycobacterium tuberculosis (organisme yang menyebabkan TBC).

Sumbatan pada jalan nafas juga bisa menyebabkan terbentuknya abses. Jika percabangan bronkus tersumbat oleh tumor atau benda asing, maka bisa terjadi akumulasi sekret (mukus) dari saluran nafas di belakang sumbatan. Bakteri terkadang masuk ke dalam akumulasi sekret ini. Adanya sumbatan mencegah sekret dibatukkan keluar, sehingga bisa terjadi infeksi dan kemudian terbentuk abses.

Pada kasus yang lebih jarang, abses terbentuk akibat adanya bekuan darah yang terinfeksi (emboli septik) atau bakteri yang masuk melalui aliran darah (bakteremia) ke dalam paru-paru dari tempat lain di tubuh yang terinfeksi.

Biasanya hanya terbentuk satu abses paru sebagai akibat dari aspirasi atau sumbatan jalan nafas. Jika abses paru yang terbentuk lebih dari satu, biasanya abses-abses ini berada pada paru-paru yang sama. Namun, jika infeksi masuk ke paru-paru melalui aliran darah, maka bisa terbentuk banyak abses yang tersebar di kedua paru. Kondisi ini paling sering terjadi pada orang-orang yang menyuntikkan obat-obat terlarang menggunakan jarum yang kotor atau tidak steril.

Pada akhirnya, sebagian besar abses paru akan pecah ke dalam jalan nafas, sehingga menghasilkan dahak yang banyak. Abses yang pecah meninggalkan rongga di paru-paru yang terisi oleh cairan dan udara. Rongga ini bisa menjadi bagian yang tidak aktif pada jaringan paru, atau mungkin juga perlu diangkat melalui pembedahan.

Terkadang abses paru pecah ke dalam rongga pleura, yaitu ruangan yang terdapat di antara paru-paru dan dinding dada, sehingga ruang tersebut terisi oleh nanah (empiema). Pada kasus yang sangat jarang, bisa terjadi perdarahan akibat abses yang menghancurkan dinding pembuluh darah.

Pada sebagian besar kasus, penyebabnya adalah bakteri anaerob. Yang paling sering adalah Peptostreptococcus, Bacteroides, Fusobacterium dan microaerophilic streptococci.

Organisme lain yang terkadang bisa menyebabkan abses paru antara lain :

Staphylococcus aureus
Streptococcus pyogenes
Streptococcus pneumoniae
Klebsiella pneumoniae
Haemophilus influenzae
– spesies Actinomyces dan Nocardia
– Basil gram negatif

Penyebab non-bakteri yang juga bisa menyebabkan abses paru, terutama pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk, diantaranya:
– Parasit (Paragonimus, Entamoeba)
– Jamur (Aspergillus, Cryptococcus, Histoplasma, Blastomyces, Coccidioides

Abses Paru

GEJALA

Gejala biasanya muncul secara perlahan. Namun, tergantung dari penyebabnya, gejala juga bisa muncul secara tiba-tiba. Pada awalnya gejala yang muncul menyerupai gejala pneumonia, misalnya :

– kelelahan
– hilang nafsu makan
– berat badan menurun
– berkeringat
– demam
– batuk berdahak

Dahaknya bisa mengandung darah dan seringkali berbau busuk, karena bakteri dari mulut atau tenggorokan cenderung menghasilkan bau busuk.

Penderita juga bisa merasakan nyeri dada saat bernafas, terutama jika telah terjadi peradangan pada pleura.

Sumber : http://howshealth.com

DIAGNOSA

Diagnosis abses paru tidak bisa hanya berdasarkan gejala-gejala yang menyerupai pneumonia maupun hasil pemeriksaan fisik saja. Dugaan adanya abses paru jika terdapat gejala-gejala yang menyerupai pneumonia pada keadaan-keadaan berikut:
– kelainan sistem saraf
– penyalahgunaan alkohol atau obat lainnya
– penurunan kesadaran karena berbagai sebab

Rontgen dada hampir selalu bisa menunjukkan adanya abses paru. Abses paru tampak sebagai rongga dengan bentuk yang tidak beraturan dan di dalamnya tampak adanya udara dan cairan. Abses paru yang disebabkan oleh aspirasi paling sering terjadi pada segmen belakang paru lobus atas atau segmen atas paru lobus bawah.

Namun, abses paru yang tampak pada foto rontgen dada terkadang mirip dengan kondisi lainnya, misalnya kanker, sarkoidosis, atau granulomatosis Wegener. Terkadang, abses hanya bisa ditemukan dengan pemeriksaan CT scan dada.

Biakan dahak dari paru-paru bisa membantu menentukan organisme penyebab terjadinya abses

Bronkoskopi seringkali dilakukan jika abses paru diduga terjadi akibat adanya sumbatan saluran nafas oleh tumor atau benda asing.

Sumber : https://ufhealth.org

PENGOBATAN

Pengobatan abses paru membutuhkan pemberian antibiotik. Pada sebagian besar kasus, antibiotik awalnya diberikan melalui pembuluh darah (intravena). Setelah kondisi penderita membaik dan demam menghilang, antibiotik dapat diganti secara per oral (diminum). Pemberian antibiotika diteruskan sampai gejala-gejala menghilang dan foto rontgen dada menunjukkan bahwa abses paru telah menghilang. Terapi ini mungkin membutuhkan waktu selama beberapa minggu atau bulan.

Perbaikan klinis, antara lain penurunan suhu tubuh, biasanya terjadi dalam waktu 3-4 hari setelah pemberian antibiotik. Tetapi, jika dalam waktu 7-10 hari setelah pemberian antibiotik demam tidak juga turun, maka telah terjadi kegagalan terapi dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut untuk menentukan penyebab kegagalan tersebut.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada penderita yang memberikan respon yang buruk terhadap pemberian antibiotik antara lain : sumbatan saluran nafas oleh benda asing atau tumor; atau infeksi yang disebabkan oleh jamur atau bakteri yang resisten.

Pada kasus tertentu, abses paru perlu dikeluarkan melalui selang khusus yang dimasukkan melalui dinding dada, atau jaringan paru yang terinfeksi perlu diangkat melalui pembedahan. Pembedahan sangat jarang dilakukan pada abses paru tanpa komplikasi. Pembedahan biasanya baru dilakukan jika terdapat respon yang buruk terhadap terapi, dugaan adanya kanker, atau kelainan paru kongenital.

Sebagian besar penderita umumnya bisa sembuh. Namun, terapi cenderung tidak berhasil pada orang-orang yang lemah atau memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh, kanker paru, atau abses paru yang sangat besar.

REFERENSI

– B, John G. Abscess in the Lungs. Merck Manual Home Health Handbook. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/lung_and_airway_disorders/abscess_in_the_lungs/

abscess_in_the_lungs.html

– K, Nader. Lung Abscess. Medscape. 2013. http://emedicine.medscape.com/article/299425-overview

Leave a Reply

Your email address will not be published.