Aborsi

by -1 views

Aborsi

Aborsi merupakan penghentian kehamilan yang disengaja dengan pembedahan atau obat-obatan.

PENYEBAB

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Institut Guttmacher, sebuah organisasi nirlaba di Amerika yang bergerak dalam bidang penelitian, analisa, dan edukasi kesehatan reproduksi, hak reproduksi, dan populasi, ada tiga alasan utama mengapa seseorang memilih untuk melakukan aborsi :

  • Adanya dampak negatif pada kehidupan ibu. Kehamilan yang terjadi pada saat yang tidak tepat dapat memberikan dampak pada kemampuan seorang wanita untuk berkeluarga dan bekerja. Siswi-siswi pelajar yang menjadi ibu sebelum tamat sekolah atau kuliah cenderung tidak menyelesaikan pendidikannya dibandingkan teman-teman mereka.
  • Ketidakstabilan finansial (tidak mampu untuk membiayai anak). Hamil dan melahirkan seorang bayi memberikan beban biaya yang cukup besar sampai bayi tersebut dibesarkan, terutama jika seorang wanita menjadi orang tua tunggal.
  • Adanya masalah dalam hubungan dengan pasangan / tidak mau menjadi orang tua tunggal. Sebagian besar wanita dengan kehamilan yang tidak direncanakan tidak menikah atau tinggal dengan pasangannya. Untuk itu, mereka menyadari bahwa mereka kemungkinan harus membesarkan anaknya seorang diri.

Selain itu, ada juga alasan lain seseorang menghentikan kehamilannya (aborsi) :

  • kegagalan kontrasepsi kehamilan / tidak ingin menambah jumlah anak lagi
  • tidak siap menjadi ibu atau tidak siap untuk mendapatkan anak lagi
  • tidak ingin orang lain tahu bahwa ia hamil atau pernah berhubungan seksual (di luar nikah)
  • keinginan suami, pasangan, atau orang tua
  • adanya gangguan pada kesehatan janin
  • adanya gangguan pada kesehatan ibu
  • kehamilan akibat perkosaan atau incest
  • Fakta :

    Setiap aborsi membunuh manusia tak berdosa.

    Setiap kehidupan dimulai saat terjadinya pembuahan. Fakta ini tidak dapat disangkal, baik pada hewan maupun pada manusia. Setiap aborsi berarti mengakhiri kehidupan manusia yang tak berdosa.

    Secara moral, alasan kemiskinan, perkosaan, ketidakmampuan, atau kehamilan yang tidak dikehendaki tidak membenarkan dilakukannya aborsi.

    Tidak ada alasan atau keadaan yang dapat membenarkan dilakukannya pembunuhan terhadap manusia setelah dilahirkan. Demikian juga tidak ada alasan atau keadaan yang dapat membenarkan tindakan membunuh manusia sebelum dilahirkan.

    Aborsi

    GEJALA

    Metode yang dilakukan untuk aborsi dapat berupa evakuasi bedah atau pemakaian obat-obatan untuk menstimulasi kontraksi rahim. Metode yang digunakan tergantung dari usia kehamilan.

    – Evakuasi Bedah

    Aborsi dilakukan dengan mengeluarkan isi rahim melalui vagina. Tindakan ini dilakukan pada lebih dari 95% aborsi. Setelah leher rahim dibuat membuka, maka istrumen-instrumen dimasukkan untuk mengambil janin dan plasenta. Kemudian rahim dipastikan bahwa telah bersih. Untuk usia kehamilan lebih dari 18 minggu, tindakan ini dapat menyebabkan komplikasi yang serius, misalnya kerusakan pada rahim.

    – Obat-obatan

    Ada obat-obat tertentu yang dapat digunakan untuk menginduksi aborsi. Tetapi pemakaiannya harus disesuaikan dengan usia kehamilan. Obat-obat ini membuat rahim berkontraksi sehingga mengeluarkan janin yang dikandungnya (aborsi). Jika aborsi tidak terjadi, maka dilakukan evakuasi bedah.

    Komplikasi

    Aborsi memiliki risiko terjadinya komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan kontrasepsi atau sterilisasi, terutama untuk wanita muda. Risiko komplikasi yang dapat terjadi berhubungan dengan usia kehamilan. Semakin besar usia kehamilan, maka risiko terjadinya komplikasi juga semakin besar. Risiko terjadinya komplikasi juga berhubungan dengan metode aborsi yang digunakan.

    Evakuasi Bedah

    • Rahim dapat robek akibat instrumen yang digunakan
    • Pada kasus yang jarang, usus atau organ lainnya dapat ikut mengalami cedera
    • Leher rahim dapat robek akibat instrumen yang digunakan, terutama jika usia kehamilan telah mencapai lebih dari 12 minggu
    • Perdarahan hebat pada saat atau setelah tindakan dilakukan
    • Terjadi infeksi
    • Tindakan ini atau infeksi dapat menimbulkan jaringan parut pada permukaan rahim, sehingga menyebabkan si ibu menjadi mandul, yang disebut sindroma Asherman

    – Obat-obatan. Efek samping paling sering penggunaan obat-obatan untuk aborsi adalah nyeri seperti kram pada panggul, perdarahan melalui vagina, dan gangguan saluran pencernaan, misalnya mual, muntah, dan diare.

    Perdarahan dan infeksi dapat terjadi jika ada bagian plasenta yang tertinggal pada rahim. Kemudian, dapat terbentuk bekuan darah pada tungkai, terutama jika wanita tersebut kurang aktif.

    Jika janin memiliki darah dengan Rhesus positif, maka wanita yang memiliki darah dengan Rhesus negatif dapat menghasilkan antibodi terhadap Rhesus janin. Antibodi tersebut dapat membahayakan kehamilan berikutnya. Untuk itu perlu diberikan suntikan imunoglobulin Rh0(D) untuk mencegah terbentuknya antibodi.

    Wanita yang melakukan aborsi juga dapat mengalami masalah psikologis sesudahnya. Hal ini terutama terjadi pada wanita yang melakukan aborsi karena alasan kesehatan, usia remaja, melakukan aborsi pada usia kehamilan lanjut, melakukan aborsi ilegal, dan memiliki perasaan bertentangan terhadap tindakan aborsi.

    Fakta :

    Perbedaan antara embrio dan orang dewasa adalah perbedaan tingkat perkembangan dan bukan perbedaan jenis.

    Seperti hal nya anak balita dan anak remaja, istilah embrio dan janin tidak mengarah pada bukan manusia, tetapi manusia pada tingkatan perkembangan tertentu. Manusia di dalam kandungan masih kurang berkembang, berukuran lebih kecil, dan lebih tergantung dibandingkan dengan manusia yang telah dilahirkan. Perbedaan ini adalah perbedaan tingkatan pada manusia, tetapi bukan perbedaan jenis. Ada manusia yang lebih besar, lebih kuat, lebih pandai, atau lebih mandiri dibandingkan kita, tetapi hal itu tidak membuat hidup kita kurang berharga atau kurang membutuhkan perlindungan dibandingkan mereka.

    DIAGNOSA

    Pemeriksaan ultrasonografi biasanya dilakukan untuk menentukan usia kehamilan sebelum aborsi. Pemeriksaan ultrasonografi juga dapat dilakukan setelah aborsi, untuk melihat bahwa kehamilan telah berakhir. Tes air kemih untuk mendeteksi kehamilan juga dapat dilakukan lagi setelah 3-4 minggu pasca aborsi dengan obat-obatan. Tetapi, jika tes dilakukan sebelum 3 minggu tindakan, maka bisa didapatkan hasil positif palsu karena hormon-hormon kehamilan masih berada di tubuh wanita tersebut.

    PENGOBATAN

    Jika akhirnya dilakukan aborsi, maka tetap diperlukan perawatan pasca aborsi.

    Setelah aborsi, seorang wanita harus beristirahat. Hindari aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. Perdarahan dapat terjadi sampai satu minggu atau lebih pasca aborsi. Perdarahan dapat bervariasi, mulai dari yang sedikit sampai yang banyak. Gunakan pembalut dan bukan tampon vagina untuk mengatasi perdarahan yang terjadi. Jika perdarahan yang terjadi sangat banyak atau lama, maka segeralah pergi ke dokter untuk memeriksakan diri.

    Rasa kram pada perut dapat terjadi 4-6 hari pasca aborsi. Untuk mengatasi rasa kram yang ada dapat digunakan obat-obat, seperti ibuprofen. Istirahat dan kompres hangat pada perut juga dapat membantu.

    Gejala-gejala kehamilan, seperti mual dan muntah, biasanya menghilang dalam waktu tiga hari pasca aborsi. Payudara dapat terasa kencang dan nyeri, serta mengeluarkan cairan setelahnya. Rasa nyeri akan menghilang dalam waktu sekitar 7-10 hari. Gunakan pakaian dalam (bra) yang nyaman. Rasa nyeri juga dapat diringankan dengan penggunaan obat-obatan, seperti ibuprofen, atau dengan pemberian kompres dingin pada payudara.

    Jika terjadi gejala-gejala di bawah ini, maka wanita pasca aborsi harus segera pergi ke dokter untuk memeriksakan diri :

    • Demam lebih dari 100oF (>37.7oC) atau menggigil
    • Perdarahan yang hebat (pembalut penuh setiap jam, selama tiga jam berturut-turut)
    • Kram hebat yang tidak membaik dengan pemberian obat, atau kram perut yang lama

    Infeksi pasca aborsi dapat dihindari dengan cara :

    • meminum obat antibiotik yang diberikan sesuai petunjuk dokter
    • jangan melakukan hubungan seksual per vagina atau memasukkan apapun ke dalam vagina (termasuk tampon) selama 2 minggu setelah aborsi
    • boleh mandi, tetapi jangan berendam, berenang atau membilas vagina (douche)

    Setelah aborsi, periode menstruasi akan kembali dalam waktu 4-7 minggu kemudian. Wanita tersebut dapat hamil kembali, untuk itu gunakan kontrasepsi saat akan melakukan hubungan seksual kembali. Siklus menstruasi bisa tidak teratur pada awalnya.

    PENCEGAHAN

    Salah satu cara untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki dan mencegah dilakukannya aborsi adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

    Sumber : http://therealsingapore.com

    REFERENSI

    – L, Linda. Why Women Choose Abortion – Reasons Behind the Abortion Decision.

    http://womensissues.about.com/od/reproductiverights/a/AbortionReasons.htm

    – Web MD. Abortion – Reasons Women Choose Abortion. 2011.

    http://women.webmd.com/tc/abortion-reasons-women-choose-abortion

    – M, Daniel R. Abortion. Merck Manual Home Health Handbook. 2007.

    http://www.merckmanuals.com/home/womens_health_issues/family_planning/abortion.

    html?qt=abortion&alt=sh

    http://www.abortionfacts.com/

    – UCSF Medical Center. Post Abortion Care and Recovery. San Francisco.

    http://www.ucsfhealth.org/education/post-abortion_care_and_recovery/

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.